Refleksi mendalam dari Ketua Lingga Media Group ungkap sisi gelap profesi jurnalis yang kerap menghadapi tekanan, intimidasi, hingga kekerasan demi menyampaikan kebenaran kepada publik.
Ihand.id | • Lingga – Di setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional, sebuah momentum untuk menghormati para pekerja yang menjadi tulang punggung kehidupan.
Namun di tengah riuhnya peringatan itu, ada satu kelompok pekerja yang kerap luput dari sorotan: jurnalis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka hadir di setiap peristiwa. Mereka ada di garis depan saat tragedi terjadi, saat konflik memanas, saat kebenaran perlu disuarakan. Namun ironisnya, suara mereka sendiri sering kali tenggelam.
Ifaturamadan Adi Saswandy, S.Sos., yang akrab disapa Wandy, Ketua Komunitas Lingga Media Group (LMG), mengungkapkan refleksi yang menggugah sekaligus menyentuh.
Dalam peringatan Hari Buruh 2026 ini, ia menegaskan satu hal yang sering diabaikan:
“Jurnalis juga buruh.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun sarat makna. Sebab di balik profesi yang sering dianggap bebas dan penuh idealisme, terdapat realita keras yang tidak semua orang tahu.
Setiap berita yang sampai ke tangan publik bukanlah hasil kerja instan. Ada waktu, tenaga, bahkan risiko yang harus dibayar.
Jurnalis harus berpacu dengan waktu, menembus batas, dan tidak jarang mempertaruhkan keselamatan demi satu tujuan: mengungkap kebenaran.
Namun di balik semua itu, kesejahteraan jurnalis masih menjadi persoalan klasik yang belum menemukan titik terang.
“Jurnalis bekerja dengan tekanan yang luar biasa. Tapi perhatian terhadap kesejahteraan mereka masih sangat minim,” ungkap Wandy.
Tekanan itu datang dari berbagai arah. Dari tuntutan kecepatan dalam menyajikan informasi, dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan pemberitaan, hingga dari situasi di lapangan yang tidak selalu aman.
Tak sedikit jurnalis yang harus menghadapi intimidasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, kekerasan fisik menjadi risiko nyata yang mengintai setiap langkah mereka.
Di lapangan, jurnalis sering kali berdiri sendirian. Tanpa perlindungan memadai, tanpa jaminan keamanan yang jelas. Mereka tetap bekerja, tetap meliput, tetap menulis meski ancaman bisa datang kapan saja.
Namun yang lebih menyakitkan, semua itu kerap tidak diiringi dengan kesejahteraan yang layak.
Banyak jurnalis, khususnya di daerah, masih harus berjuang dengan penghasilan yang tidak menentu. Bahkan ada yang bekerja tanpa kontrak jelas, tanpa jaminan kesehatan, tanpa perlindungan hukum yang kuat.
Penulis : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya




















