Seluruh pegawai turun tangan langsung, menanam dan merawat pohon kates sebagai simbol harapan dan komitmen menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Lingga.
Ihand.id | • Lingga – Di tengah berbagai tantangan pangan yang kian nyata, sebuah langkah sederhana justru lahir dengan makna yang begitu dalam.

Bukan proyek besar, bukan pula seremoni tanpa arti. Hanya sebuah aksi menanam namun menyimpan harapan besar bagi masa depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Lingga menanam 52 pohon kates. Jumlahnya mungkin terlihat kecil. Namun di balik angka itu, ada komitmen yang dibagi rata, satu pohon untuk satu pegawai, satu tanggung jawab untuk satu harapan.
Tak ada yang berdiri di pinggir. Tak ada yang sekadar menyaksikan. Semua turun ke tanah, menyentuh langsung proses kehidupan, menanam, merawat, dan menunggu tumbuhnya masa depan.
Kepala Disperindagkop UKM Lingga, Febrizal Taupik, menegaskan bahwa ini bukan sekadar kegiatan seremonial yang akan dilupakan begitu saja. Lebih dari itu, ini adalah proses belajar, belajar memahami arti ketahanan pangan dari akar yang paling dasar.
“Setiap staf harus tahu bagaimana menanam dan merawat. Karena dari situlah kita belajar menjaga keberlanjutan,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Di balik tanah yang digemburkan dan bibit yang ditanam, tersimpan kekhawatiran yang nyata, tentang keberlanjutan komoditas lokal. Taupik tak ingin apa yang sudah mulai dirintis justru terhenti di tengah jalan.
Sebelumnya, Disperindagkop UKM Lingga juga telah mengembangkan cabai rawit. Dan langkah ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan yang lebih luas, menanam lebih banyak, menjaga lebih lama, dan memastikan pangan tetap tersedia.
Sebab yang mereka hadapi bukan sekadar soal hari ini, tapi masa depan.
Program ini juga terhubung langsung dengan kebutuhan bahan baku untuk program MBG di Kabupaten Lingga. Ketersediaan kates bukan lagi sekadar hasil pertanian biasa, tetapi menjadi bagian penting dari rantai pasokan pangan yang harus terus hidup.
“Jangan sampai terputus. Karena ke depan, kates ini akan sangat dibutuhkan di dapur-dapur MBG,” tegasnya.
Di sinilah makna sesungguhnya terasa bahwa satu pohon bukan hanya soal tumbuhan. Ia adalah simbol ketahanan. Ia adalah harapan yang ditanam hari ini untuk memastikan tidak ada kekosongan esok hari.
Langkah ini mungkin tampak kecil. Namun sejarah sering kali dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan kesungguhan.
Dan di Lingga, dari 52 pohon kates yang ditanam dengan tangan-tangan penuh harapan, sebuah pesan kuat sedang tumbuh: bahwa menjaga pangan adalah tanggung jawab bersama dan masa depan bisa dimulai dari satu pohon.
Penulis : Ivantri Gustianda




















