Aksi spektakuler barongsai pada hari pertama Imlek 17 Februari 2026 memikat warga Dabo Singkep. Tradisi kuno Tiongkok ini bukan sekadar hiburan, tetapi simbol keberuntungan dan pengusir energi buruk.
Ihand.id | • Budaya/tradisi – Dentuman tambur bertalu-talu memecah pagi di Kota Dabo Singkep, Selasa (17/2/2026). Gerakan lincah dan penuh energi dari barongsai langsung menyedot perhatian warga yang memadati halaman rumah-rumah dan ruas jalan kota.

Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Gongzili tahun ini terasa begitu istimewa. Selain dipenuhi suasana kekeluargaan, momen ini juga menjadi ajang pulang kampung bagi warga Tionghoa Dabo Singkep yang selama ini merantau dan bekerja di luar daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah aksi barongsai yang tampil memukau di hari pertama Imlek. Anak-anak hingga orang tua tampak antusias, mengabadikan setiap gerakan sang singa warna-warni yang menari mengikuti irama tambur dan simbal.
Salah seorang warga, Doni (32), mengungkapkan kebahagiaannya saat menyaksikan atraksi tersebut bersama keluarga.
“Aksi barongsai memang selalu jadi daya tarik tersendiri. Keluarga kami bahagia sekali ketika barongsai datang ke rumah, terutama anak saya yang sangat antusias,” ujarnya dengan senyum bangga.
Barongsai bukan sekadar pertunjukan seni. Tradisi ini telah hidup selama ribuan tahun dalam budaya Tionghoa dan erat kaitannya dengan perayaan Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru Imlek.
Menurut legenda Tiongkok kuno, barongsai berawal dari kisah makhluk buas bernama “Nian” yang konon muncul setiap pergantian tahun untuk mengganggu penduduk desa.
Warga kemudian menemukan bahwa makhluk tersebut takut pada suara keras, warna merah, dan bentuk singa. Dari sinilah tradisi tarian singa atau barongsai lahir sebagai simbol pengusir roh jahat dan pembawa keberuntungan.
Dalam perkembangannya, seni barongsai menyebar dari daratan Tiongkok ke berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di negeri ini, barongsai sempat mengalami masa suram. Pada era tertentu, ekspresi budaya Tionghoa dibatasi.
Namun sejak era reformasi, khususnya setelah kebijakan pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, perayaan Imlek kembali diakui secara nasional dan barongsai kembali tampil bebas sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Kini, barongsai tak hanya tampil di klenteng atau rumah warga Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari festival budaya lintas etnis di berbagai daerah.
Dalam filosofi Tionghoa, gerakan barongsai melambangkan keberanian, kekuatan, dan kebijaksanaan. Kepala singa yang digerakkan penuh ekspresi menggambarkan semangat menghadapi tahun baru dengan optimisme.
Di Dabo Singkep, kehadiran barongsai di rumah-rumah warga diyakini membawa berkah dan keberuntungan. Biasanya, pemilik rumah memberikan angpao sebagai simbol berbagi rezeki dan harapan baik di tahun yang baru.
Perayaan Imlek 2577 Gongzili tahun ini terasa semakin hangat karena banyak perantau yang kembali ke kampung halaman. Kota kecil yang berada di Kabupaten Lingga itu mendadak lebih ramai, dipenuhi tawa keluarga yang lama terpisah.
Barongsai pun menjadi jembatan emosional, menghubungkan sejarah, budaya, dan kebersamaan dalam satu momentum sakral.
Dabo Singkep sebagai kota kecil di Kabupaten Lingga kembali menunjukkan wajah harmoninya. Warga dari berbagai latar belakang tampak membaur, ikut menyaksikan dan menikmati pertunjukan barongsai.
Moment ini membuktikan bahwa Imlek bukan hanya perayaan satu etnis, melainkan bagian dari keberagaman budaya Indonesia yang saling menguatkan.
Dentuman tambur yang menggema di langit Dabo Singkep bukan sekadar suara hiburan. Ia adalah gema sejarah panjang peradaban, simbol semangat baru, dan harapan akan tahun yang lebih baik.
Di tahun 2577 Gongzili ini, barongsai tak hanya menari, ia menghidupkan kembali denyut tradisi, mempererat keluarga, dan membawa optimisme bagi seluruh warga kota.
Penulis : Ivantri Gustianda




















