Bukan sekadar hidangan, pulut santan menjadi simbol kesabaran dan kebersamaan dalam adat perkawinan masyarakat
Ihand.id | • Tradisi – Sejak fajar mulai merekah, aroma santan yang dimasak perlahan sudah menyusup ke udara, membawa kehangatan yang tak sekadar berasal dari dapur.
Di balik kepulan asap kayu bakar, pulut santan sedang diracik bukan hanya sebagai hidangan, melainkan sebagai warisan tradisi yang hidup dalam setiap prosesi pernikahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prosesnya panjang dan penuh ketelatenan. Santan dimasak terlebih dahulu hingga matang, lalu gula ditambahkan, sebelum beras ketan atau pulut dimasukkan secara perlahan.
Api kayu bakar terus dijaga, sementara tangan-tangan sabar mengaduk tanpa henti. Waktu 3 hingga 4 jam seakan tak terasa, karena di sanalah kebersamaan tumbuh, canda, cerita, dan gotong royong menyatu dalam satu periuk.
Haris, yang akrab disapa Bukoh, menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar urusan rasa. “Pulut ini bagian dari adat, terutama saat tepung tawar dan berzanji,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Baginya, setiap tahapan memasak adalah pengingat akan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
Lebih dari itu, pulut santan menyimpan simbol yang mendalam. Teksturnya yang lengket dan rasanya yang manis menjadi harapan bagi pasangan pengantin agar selalu bersama dalam suka maupun duka, erat dalam kebersamaan, dan manis dalam menjalani kehidupan.
Tradisi ini juga mengajarkan satu hal sederhana namun bermakna: kesabaran. Seperti pulut yang dimasak berjam-jam demi hasil terbaik, rumah tangga pun membutuhkan proses, waktu, dan ketulusan.
Sebab, segala yang ingin serba instan sering kali berakhir bukan dengan kemanisan, melainkan gosong sebelum matang.
Penulis : Ivantri Gustianda




















