Makna Puasa Ramadhan Hari Ketujuh Lengkap dengan Dalil dan Keistimewaannya
Ihand.id | • Religi – Memasuki hari ketujuh bulan suci Ramadhan, umat Islam semakin dikuatkan untuk menjaga konsistensi ibadah dan meningkatkan kualitas ketakwaan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Setiap harinya memiliki keutamaan dan peluang pahala yang besar bagi siapa saja yang menjalankannya dengan iman dan penuh harap kepada Allah SWT.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan spiritual yang menguatkan jiwa serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalil Kewajiban dan Keutamaan Puasa Ramadhan
Kewajiban puasa Ramadhan ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi landasan bahwa setiap hari di bulan Ramadhan, termasuk hari ketujuh, adalah momentum pengampunan dosa.
Makna Puasa Ramadhan Hari ke-7
Hari ketujuh Ramadhan menjadi fase penguatan spiritual. Setelah melewati hampir satu pekan ibadah puasa, seorang Muslim mulai merasakan:
1. Adaptasi fisik dan mental dalam menahan hawa nafsu.
2. Peningkatan kualitas ibadah, seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan sedekah.
3. Kesadaran diri (muhasabah) terhadap dosa dan kesalahan.
Secara spiritual, hari ketujuh menjadi momentum memperbaiki niat dan memperteguh komitmen agar ibadah di sisa Ramadhan semakin maksimal.
Keutamaan Puasa Ramadhan Hari ke-7
Walaupun tidak ada hadits shahih yang secara khusus menyebut keutamaan hari ketujuh secara terpisah, namun keutamaan umum puasa Ramadhan tetap berlaku pada hari ini.
Berikut beberapa keistimewaannya:
1. Pintu Ampunan Terbuka Lebar
Dalam hadits disebutkan:
“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hari ketujuh termasuk dalam rentang waktu dibukanya pintu surga dan dilipatgandakannya pahala.
2. Doa Orang Berpuasa Mustajab
Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.”
(HR. Tirmidzi)
Hari ketujuh menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak doa, terutama menjelang berbuka puasa.
3. Diberikan Pahala Tanpa Batas
Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan ini menunjukkan bahwa pahala puasa, termasuk di hari ketujuh, memiliki ganjaran istimewa langsung dari Allah SWT.
4. Momentum Menuju Derajat Takwa
Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, tujuan akhir puasa adalah ketakwaan. Hari ketujuh menjadi evaluasi diri: apakah kualitas ibadah meningkat atau justru menurun.
Amalan yang Dianjurkan di Hari ke-7 Ramadhan
Untuk memaksimalkan keutamaan hari ketujuh, umat Islam dianjurkan:
- Memperbanyak istighfar dan taubat
- Menjaga shalat lima waktu dan tarawih berjamaah
- Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
- Bersedekah kepada fakir miskin
- Memperbanyak doa saat berbuka
Konsistensi ibadah di awal Ramadhan akan menentukan kualitas ibadah di sepuluh hari terakhir nanti.
Kesimpulan
Puasa Ramadhan hari ke-7 merupakan bagian dari rangkaian hari penuh keberkahan di bulan suci. Meski tidak ada dalil khusus yang menyebut keutamaan spesifik pada hari ketujuh, seluruh keutamaan Ramadhan tetap berlaku dan terbuka luas bagi setiap Muslim yang berpuasa dengan iman dan penuh keikhlasan.
Momentum ini hendaknya dijadikan ajang muhasabah diri, memperbaiki niat, serta meningkatkan kualitas ibadah agar meraih ampunan, pahala berlipat ganda, dan derajat takwa di sisi Allah SWT.
Semoga di hari ketujuh Ramadhan ini, setiap amal ibadah kita diterima dan menjadi jalan menuju surga-Nya. Aamiin.
Penulis : Ivantri Gustianda


















