Pulut Santan, Rasa yang Dimasak Perlahan: Tradisi Pernikahan Sarat Makna di Balik Asap Kayu Bakar

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 30 Maret 2026 - 18:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tradisi memasak pulut santan dalam pernikahan menyimpan makna mendalam tentang kesabaran, kebersamaan, dan harapan kehidupan rumah tangga yang harmonis | f. Redaksi

Tradisi memasak pulut santan dalam pernikahan menyimpan makna mendalam tentang kesabaran, kebersamaan, dan harapan kehidupan rumah tangga yang harmonis | f. Redaksi

Bukan sekadar hidangan, pulut santan menjadi simbol kesabaran dan kebersamaan dalam adat perkawinan masyarakat

Ihand.id | • Tradisi – Sejak fajar mulai merekah, aroma santan yang dimasak perlahan sudah menyusup ke udara, membawa kehangatan yang tak sekadar berasal dari dapur.

Di balik kepulan asap kayu bakar, pulut santan sedang diracik bukan hanya sebagai hidangan, melainkan sebagai warisan tradisi yang hidup dalam setiap prosesi pernikahan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan sekadar hidangan, pulut santan menjadi simbol kesabaran dan kebersamaan dalam adat perkawinan masyarakat | Redaksi
Bukan sekadar hidangan, pulut santan menjadi simbol kesabaran dan kebersamaan dalam adat perkawinan masyarakat | Redaksi

Prosesnya panjang dan penuh ketelatenan. Santan dimasak terlebih dahulu hingga matang, lalu gula ditambahkan, sebelum beras ketan atau pulut dimasukkan secara perlahan.

Baca Juga:  Dinkes P2KB Lingga Gelar Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui HPV DNA Co-Testing dan IVA Test

Api kayu bakar terus dijaga, sementara tangan-tangan sabar mengaduk tanpa henti. Waktu 3 hingga 4 jam seakan tak terasa, karena di sanalah kebersamaan tumbuh, canda, cerita, dan gotong royong menyatu dalam satu periuk.

Haris, yang akrab disapa Bukoh, menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar urusan rasa. “Pulut ini bagian dari adat, terutama saat tepung tawar dan berzanji,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Baginya, setiap tahapan memasak adalah pengingat akan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga:  Istana Damnah: Jejak Kejayaan Kerajaan Riau-Lingga yang Terus Bertahan

Lebih dari itu, pulut santan menyimpan simbol yang mendalam. Teksturnya yang lengket dan rasanya yang manis menjadi harapan bagi pasangan pengantin agar selalu bersama dalam suka maupun duka, erat dalam kebersamaan, dan manis dalam menjalani kehidupan.

Tradisi ini juga mengajarkan satu hal sederhana namun bermakna: kesabaran. Seperti pulut yang dimasak berjam-jam demi hasil terbaik, rumah tangga pun membutuhkan proses, waktu, dan ketulusan.

Sebab, segala yang ingin serba instan sering kali berakhir bukan dengan kemanisan, melainkan gosong sebelum matang.

Penulis : Ivantri Gustianda

Follow WhatsApp Channel ihand.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bambang Wiratdany Resmi Jabat Kasi Pidsus Kejari Lingga: Babak Baru Penegakan Hukum Berintegritas
Sentuhan Empati di Tengah Luka: Ketua DPRD Lingga Jenguk Korban Insiden Tak Terduga
Ketika Waktu Tak Mampu Memisahkan: “Reuni 35 Tahun Penuh Haru, Ini Tentang Rasa yang Tak Pernah Usang”
Lonjakan Penyakit Pasca Lebaran di Dabo: Hipertensi dan ISPA Paling Dominan
Wabup Lingga Novrizal Kunjungi RSUD Dabo Singkep, Pastikan Pelayanan Kesehatan Tetap Optimal Pasca Lebaran
Panen Cabai di Halaman Gedung Daerah Dabo, TP PKK Lingga Dorong Ketahanan Pangan Keluarga
Arus Balik Lebaran 2026 di Lingga Mulai Memuncak, 1.000 Penumpang Tinggalkan Daerah di H+3
Perpisahan yang Menggetarkan Hati di Hari ke-30 Ramadhan
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 19:15 WIB

Bambang Wiratdany Resmi Jabat Kasi Pidsus Kejari Lingga: Babak Baru Penegakan Hukum Berintegritas

Senin, 30 Maret 2026 - 18:31 WIB

Pulut Santan, Rasa yang Dimasak Perlahan: Tradisi Pernikahan Sarat Makna di Balik Asap Kayu Bakar

Senin, 30 Maret 2026 - 18:20 WIB

Sentuhan Empati di Tengah Luka: Ketua DPRD Lingga Jenguk Korban Insiden Tak Terduga

Minggu, 29 Maret 2026 - 13:43 WIB

Ketika Waktu Tak Mampu Memisahkan: “Reuni 35 Tahun Penuh Haru, Ini Tentang Rasa yang Tak Pernah Usang”

Kamis, 26 Maret 2026 - 22:01 WIB

Lonjakan Penyakit Pasca Lebaran di Dabo: Hipertensi dan ISPA Paling Dominan

Berita Terbaru

Puskesmas Dabo 2026 | f. Wandy

Berita Harian Lingga

Lonjakan Penyakit Pasca Lebaran di Dabo: Hipertensi dan ISPA Paling Dominan

Kamis, 26 Mar 2026 - 22:01 WIB