Jejak Sejarah Ketupat: Tradisi Sakral yang Tak Pernah Absen di Hari Raya Idul Fitri 1447 H

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 - 18:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketupat idul fitri | f. Ihand

Ketupat idul fitri | f. Ihand

Dari Simbol Kesucian hingga Sajian Khas Melayu, Ketupat dan Sambal Lengkong Jadi Warisan Budaya yang Terus Hidup di Tengah Masyarakat

Ihand.id | • Budaya – Setiap kali gema takbir berkumandang menyambut Hari Raya Idul Fitri, satu hal yang hampir tak pernah absen dari setiap rumah umat Muslim adalah ketupat.

Di tahun 2026 atau 1447 Hijriah ini, tradisi tersebut kembali hidup, mengisi meja-meja makan dengan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar hidangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketupat bukan hanya makanan. Ia adalah simbol. Sebuah warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam sejarah panjang peradaban Islam di Nusantara.

Konon, tradisi ketupat mulai dikenal luas sejak masa Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, yang menggunakan ketupat sebagai media dakwah.

Anyaman janur yang membungkus nasi di dalamnya bukan sekadar bentuk estetika, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan manusia.

Baca Juga:  Ketua Umum RG Lakukan KunKer Ke Politeknik Lingga

Janur yang dianyam melambangkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isi ketupat yang putih bersih menggambarkan hati yang kembali suci setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Tak heran jika ketupat kemudian identik dengan Hari Kemenangan, Idul Fitri.

Di berbagai daerah, termasuk di wilayah Melayu seperti Kabupaten Lingga dan sekitarnya, ketupat hadir bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga bagian dari identitas kuliner lokal.

Yang membuatnya semakin istimewa adalah kehadiran sambal lengkong, sajian khas Melayu berbahan dasar daging ikan yang dimasak dengan bumbu rempah yang kaya rasa.

Perpaduan antara ketupat yang lembut dengan sambal lengkong yang gurih dan pedas menciptakan cita rasa yang menggugah selera, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam setiap suapan.

Momentum Idul Fitri pun menjadi lebih hangat. Ketupat bukan hanya disantap bersama keluarga, tetapi juga menjadi hidangan yang disuguhkan kepada tamu, tetangga, hingga kerabat yang datang bersilaturahmi.

Baca Juga:  Jalan Rusak Parah di Pelabuhan Roro Penarik: Warga Lingga Terjebak Antara Hujan, Lumpur, dan Janji Pemerintah

Tradisi ini seakan menjadi pengikat sosial yang tak lekang oleh waktu.

Di tengah modernisasi yang terus berkembang, keberadaan ketupat tetap bertahan. Ia tidak tergeser oleh makanan instan atau tren kuliner baru.

Justru, di momen sakral seperti Idul Fitri, ketupat kembali menjadi pusat perhatian, menghidupkan kenangan, mempererat hubungan, dan mengingatkan akan makna sejati dari hari kemenangan.

Idul Fitri 1447 H kembali menjadi saksi bahwa tradisi ini masih terjaga. Ketupat tetap hadir, bukan hanya sebagai hidangan, tetapi sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesucian.

Dan di setiap anyamannya, tersimpan cerita, tentang maaf, tentang kebersamaan, dan tentang harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Penulis : Ivantri Gustianda

Follow WhatsApp Channel ihand.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Lingga dan BPMP Kepri Bahas Masa Depan Pendidikan, Fokus Tingkatkan Mutu dan Atasi Kendala di Lapangan
Wabup Lingga Hadiri Sinkronisasi RTRW Kepri, Perkuat Arah Pembangunan dan Investasi Daerah
AJI, PWI, PJS dan LMG Bersatu dalam Tim Media B pada Turnamen Mini Soccer Polres Lingga 2026
Media B Kalahkan Satlantas 3-1, Melaju ke Babak Berikutnya Turnamen Mini Soccer Polres Lingga CUP 2026
Desa Resun Jadi Pilot Project Kampung CERIA, TP-PKK Lingga Perkuat Pemberdayaan Keluarga dan Cegah Stunting
Pemkab Lingga dan Kejari Lingga Resmi Teken MoU, Perkuat Pendampingan Hukum untuk Pembangunan Daerah
Peringati Tahun Baru Islam 1448 H, Pemkab Lingga Salurkan Bantuan Baznas dan Ajak Masyarakat Perkuat Semangat Hijrah
Pembersihan Lahan Dimulai, Sekolah Rakyat di Lingga Ditargetkan Mulai Dibangun Akhir 2026
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:18 WIB

Pemkab Lingga dan BPMP Kepri Bahas Masa Depan Pendidikan, Fokus Tingkatkan Mutu dan Atasi Kendala di Lapangan

Minggu, 21 Juni 2026 - 13:25 WIB

Wabup Lingga Hadiri Sinkronisasi RTRW Kepri, Perkuat Arah Pembangunan dan Investasi Daerah

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:58 WIB

AJI, PWI, PJS dan LMG Bersatu dalam Tim Media B pada Turnamen Mini Soccer Polres Lingga 2026

Sabtu, 20 Juni 2026 - 19:07 WIB

Media B Kalahkan Satlantas 3-1, Melaju ke Babak Berikutnya Turnamen Mini Soccer Polres Lingga CUP 2026

Jumat, 19 Juni 2026 - 15:04 WIB

Desa Resun Jadi Pilot Project Kampung CERIA, TP-PKK Lingga Perkuat Pemberdayaan Keluarga dan Cegah Stunting

Berita Terbaru