Dari Simbol Kesucian hingga Sajian Khas Melayu, Ketupat dan Sambal Lengkong Jadi Warisan Budaya yang Terus Hidup di Tengah Masyarakat
Ihand.id | • Budaya – Setiap kali gema takbir berkumandang menyambut Hari Raya Idul Fitri, satu hal yang hampir tak pernah absen dari setiap rumah umat Muslim adalah ketupat.
Di tahun 2026 atau 1447 Hijriah ini, tradisi tersebut kembali hidup, mengisi meja-meja makan dengan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar hidangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketupat bukan hanya makanan. Ia adalah simbol. Sebuah warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam sejarah panjang peradaban Islam di Nusantara.
Konon, tradisi ketupat mulai dikenal luas sejak masa Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, yang menggunakan ketupat sebagai media dakwah.
Anyaman janur yang membungkus nasi di dalamnya bukan sekadar bentuk estetika, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan manusia.
Janur yang dianyam melambangkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isi ketupat yang putih bersih menggambarkan hati yang kembali suci setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Tak heran jika ketupat kemudian identik dengan Hari Kemenangan, Idul Fitri.
Di berbagai daerah, termasuk di wilayah Melayu seperti Kabupaten Lingga dan sekitarnya, ketupat hadir bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga bagian dari identitas kuliner lokal.
Yang membuatnya semakin istimewa adalah kehadiran sambal lengkong, sajian khas Melayu berbahan dasar daging ikan yang dimasak dengan bumbu rempah yang kaya rasa.
Perpaduan antara ketupat yang lembut dengan sambal lengkong yang gurih dan pedas menciptakan cita rasa yang menggugah selera, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam setiap suapan.
Momentum Idul Fitri pun menjadi lebih hangat. Ketupat bukan hanya disantap bersama keluarga, tetapi juga menjadi hidangan yang disuguhkan kepada tamu, tetangga, hingga kerabat yang datang bersilaturahmi.
Tradisi ini seakan menjadi pengikat sosial yang tak lekang oleh waktu.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, keberadaan ketupat tetap bertahan. Ia tidak tergeser oleh makanan instan atau tren kuliner baru.
Justru, di momen sakral seperti Idul Fitri, ketupat kembali menjadi pusat perhatian, menghidupkan kenangan, mempererat hubungan, dan mengingatkan akan makna sejati dari hari kemenangan.
Idul Fitri 1447 H kembali menjadi saksi bahwa tradisi ini masih terjaga. Ketupat tetap hadir, bukan hanya sebagai hidangan, tetapi sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesucian.
Dan di setiap anyamannya, tersimpan cerita, tentang maaf, tentang kebersamaan, dan tentang harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Penulis : Ivantri Gustianda




















