Pulau yang dikelilingi laut biru ini menjadi ruang bermain alami, tempat anak-anak tumbuh bersama ombak, pasir, dan persahabatan
Ihand.id | • Lingga – Di ufuk timur Kepulauan Riau, terdapat sebuah pulau yang tak hanya menyuguhkan panorama, tetapi juga menyimpan denyut kehidupan yang hangat dan sederhana.
Pulau itu adalah Dabo Singkep, tanah yang dikelilingi laut luas, dihiasi garis pantai panjang, dan selalu dipeluk semilir angin asin dari perairan tropis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap akhir pekan dan hari libur, suasana pesisir berubah menjadi panggung kegembiraan. Ombak kecil berkejaran ke daratan, burung laut melintas rendah, dan jejak kaki mungil memenuhi pasir basah.
Di sepanjang pesisir Desa Tanjung Harapan, suara tawa anak-anak menjadi musik alami yang tak pernah dijadwalkan.
Mereka datang tanpa undangan.
Tanpa gadget.
Tanpa batas waktu.
Ada yang berlari mengejar ombak, ada yang menimbun kaki temannya dengan pasir, ada pula yang berenang sambil tertawa saat ombak kecil memercikkan air asin ke wajah mereka. Laut menjadi taman bermain, dan pantai menjadi halaman rumah yang tak pernah terkunci.
Di antara mereka, seorang anak bernama Muhammad Qadaffa Mughi Sakha (8), atau akrab dipanggil Sakha, tampak paling bersemangat.
Sabtu, 14 Februari 2026, dengan kaki masih berbalut pasir dan rambut basah oleh air laut, ia bercerita polos tentang kebiasaannya.
“Kalau libur, kami pasti ke pantai. Main air, berenang, bikin istana pasir… kadang bantu dorong sampan nelayan juga. Seru sekali,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
Baginya, pantai bukan sekadar tempat bermain.
Pantai adalah sekolah kehidupan.
Di sela permainan, anak-anak sering membantu nelayan yang baru pulang melaut. Mereka mendorong perahu kayu agar naik ke pasir, tertawa saat kaki mereka tenggelam dalam lumpur, lalu berlari kembali ke air.
Tak ada yang mengajari mereka secara formal.
Namun mereka belajar tentang kerja sama, tentang alam, dan tentang menghargai laut yang memberi makan keluarga mereka.
Senja kemudian perlahan turun.
Langit berubah jingga, memantul di permukaan laut seperti cermin raksasa. Siluet perahu nelayan bergoyang pelan, sementara anak-anak masih enggan pulang.
Bagi masyarakat pesisir Dabo Singkep, pantai bukan hanya objek wisata.
Ia adalah ruang tumbuh.
Ia adalah tempat kenangan diciptakan.
Di kota-kota besar, masa kecil sering dihabiskan di balik layar.
Namun di sini, masa kecil masih berlari di pasir, basah oleh ombak, dan hangat oleh matahari sore.
Dan mungkin justru itulah kemewahan terbesar dari sebuah pulau kecil di tepi Indonesia.
Pulau yang tidak hanya indah dipandang,
tetapi juga indah untuk dikenang.
Penulis : Ivantri Gustianda

















