Perpaduan prata telur dan kuah kari ayam jadi energi awal masyarakat pesisir sebelum beraktivitas
Ihand.id | • Kuliner – Dabo Singkep selalu memulai paginya dengan cara yang sederhana namun penuh rasa.
Ketika matahari baru saja menyentuh permukaan laut, angin asin dari pesisir menyelinap di antara rumah-rumah warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warung-warung kecil mulai membuka pintu kayunya, kompor dinyalakan, dan suara wajan besi bertemu adonan menjadi tanda: pagi telah benar-benar dimulai.
Di kota kecil ini, ada satu aroma yang hampir selalu hadir sebelum aktivitas apa pun dimulai, kuah kari ayam.
Dan aroma itu berasal dari satu hidangan yang sangat akrab bagi warga: prata.
Prata bukan sekadar roti pipih biasa.
Ia adalah perpaduan sederhana namun sempurna: prata telur hangat yang renyah di luar dan lembut di dalam, dipadukan kuah kari ayam kental berempah.
Kuahnya berwarna kuning keemasan, berminyak tipis di permukaan, dengan aroma rempah yang menguar bahkan sebelum sendok menyentuh mangkuk.
Gigitan pertama menghadirkan sensasi unik, gurih telur, lembut adonan, lalu disusul ledakan rasa kari ayam yang hangat di tenggorokan.
Rasanya tidak pedas berlebihan, tapi cukup untuk membangunkan tubuh dari kantuk pagi.
Di Dabo Singkep, sarapan bukan nasi uduk, bukan pula bubur ayam.
Di sini, pagi dimulai dengan mencelupkan prata ke dalam kari.
Setiap pagi, nelayan, pelajar, pegawai kantor, hingga pedagang pasar berkumpul di warung yang sama. Tidak perlu janji, semua tahu waktunya.
Satu tangan memegang gelas teh tarik panas, tangan lain menyobek prata.
Prata telah menjadi ritual harian masyarakat sebelum menjalani hari.
Hangatnya kari memberi tenaga, sementara kebersamaan di meja kayu memberi semangat.
Seorang warga Dabo Singkep, Vatawari (31), mengaku hampir tidak pernah melewatkan sarapan ini.
“Prata itu wajib sebelum mulai aktivitas. Rasanya beda kalau belum makan prata. Bukan cuma saya, hampir semua orang sini begitu,” ujarnya sambil tersenyum, Sabtu 14 Februari 2026.
Menurutnya, kari ayam pada prata memiliki rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Kuahnya itu yang bikin nagih. Gurih, hangat, dan pas di lidah. Kalau pagi hujan, makin terasa nikmatnya,” tambahnya.
Keberadaan prata di Dabo Singkep bukan kebetulan.
Kuliner ini merupakan hasil pertemuan budaya maritim, pengaruh Melayu pesisir dan India yang telah lama berdagang di wilayah perairan Kepulauan Riau.
Namun seiring waktu, warga setempat mengolahnya menjadi rasa yang berbeda.
Kari ayam di sini lebih ringan, tidak terlalu tajam rempahnya, namun kaya kaldu.
Tekstur pratanya juga lebih lembut, menyesuaikan selera masyarakat lokal.
Kini, prata bukan lagi makanan pendatang.
Ia sudah menjadi identitas rasa kota kecil ini.
Sekitar pukul 06.30, kursi warung biasanya sudah penuh.
Obrolan ringan tentang cuaca, laut, harga ikan, hingga rencana kerja hari itu mengalir bersama uap kari yang mengepul.
Tidak ada yang terburu-buru.
Pagi di Dabo Singkep berjalan pelan dan prata menjadi pengikat waktunya.
Bagi banyak warga, hari terasa belum dimulai jika belum menyobek prata pertama.
Karena di kota kecil yang dikelilingi laut ini, sarapan bukan hanya mengisi perut.
Ia adalah tradisi.
Ia adalah kebiasaan.
Ia adalah rasa pulang.
Dan semuanya dimulai dari sepiring prata hangat dan semangkuk kari ayam yang setia menunggu setiap fajar datang.
Penulis : Redaksi

















