Memasuki hari ke-24 Ramadhan, umat Islam diajak memperbanyak amal saleh karena setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi pahala yang terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Ihand.id | • Religi – Bulan suci Ramadhan merupakan momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Memasuki hari ke-24 Ramadhan, umat Muslim semakin berada di penghujung bulan penuh berkah ini, di mana setiap amal kebaikan memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada fase akhir Ramadhan ini, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah, baik melalui shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, hingga membantu sesama.
Keutamaan puasa di hari ke-24 juga sering dikaitkan dengan pahala amal yang terus mengalir, terutama bagi mereka yang menanamkan kebaikan yang manfaatnya dirasakan banyak orang.
Makna Puasa di Hari ke-24 Ramadhan
Hari ke-24 Ramadhan menjadi pengingat bahwa waktu Ramadhan hampir berakhir. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan beramal.
Makna utama dari puasa pada hari ke-24 adalah memperbanyak amal yang berkelanjutan atau amal jariyah, yaitu amal yang manfaatnya terus dirasakan sehingga pahalanya tetap mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.
Amal jariyah dapat berupa berbagai bentuk kebaikan, seperti membangun masjid, membantu pendidikan, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, atau menolong orang yang membutuhkan.
Momentum ini juga menjadi waktu yang tepat bagi umat Islam untuk memperbaiki niat dan memperbanyak kebaikan, karena setiap amal yang dilakukan di bulan Ramadhan memiliki ganjaran yang berlipat ganda.
Dalil Tentang Amal yang Pahalanya Terus Mengalir
Konsep pahala yang terus mengalir dalam Islam dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menjadi dasar bahwa amal yang memberikan manfaat jangka panjang akan tetap mendatangkan pahala meskipun pelakunya telah tiada.
Selain itu, Allah SWT juga menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa setiap kebaikan yang dilakukan manusia tidak akan disia-siakan.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa sekecil apa pun amal yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapat balasan dari Allah SWT.
Keistimewaan Puasa di Hari ke-24 Ramadhan
Memasuki hari ke-24 Ramadhan, umat Islam juga berada di fase 10 malam terakhir Ramadhan, yang dikenal sebagai waktu paling mulia dalam bulan suci ini.
Pada fase ini terdapat malam yang sangat agung yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah SWT berfirman:
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Karena itu, puasa dan ibadah yang dilakukan pada hari ke-24 menjadi bagian dari upaya mempersiapkan diri untuk meraih keberkahan malam Lailatul Qadar.
Selain itu, sejumlah ulama menjelaskan bahwa keutamaan Ramadhan di akhir bulan adalah kesempatan memperbaiki amal dan memperbanyak pahala, karena Allah membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya.
Menghidupkan Amal Berkelanjutan di Bulan Ramadhan
Hari ke-24 Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menanamkan amal yang manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Beberapa contoh amal yang dapat dilakukan antara lain:
- Bersedekah untuk pembangunan masjid atau pesantren
- Membantu pendidikan anak yatim atau kaum dhuafa
- Menyebarkan ilmu yang bermanfaat
- Membantu kegiatan sosial dan kemanusiaan
- Mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain
Amal-amal tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga menjadi investasi pahala yang terus mengalir bagi pelakunya.
Momentum Memaksimalkan Ibadah
Para ulama mengingatkan bahwa penghujung Ramadhan adalah waktu yang sangat menentukan. Rasulullah SAW bahkan meningkatkan ibadahnya secara luar biasa pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Rasulullah SAW apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memanfaatkan waktu di penghujung Ramadhan untuk memperbanyak amal kebaikan.
Penutup
Puasa Ramadhan di hari ke-24 mengajarkan umat Islam tentang pentingnya amal yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi sesama. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas akan dicatat sebagai pahala yang tidak terputus.
Dengan semakin dekatnya akhir Ramadhan, umat Islam diharapkan dapat memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memperbanyak ibadah, memperkuat keimanan, serta menanamkan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir hayat.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membangun warisan kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan sepanjang masa.
Penulis : Ivantri Gustianda




















