Memasuki hari kesembilan Ramadhan, umat Islam diajak memperkuat istighfar dan amal saleh. Inilah makna, dalil, serta keistimewaan puasa Ramadhan hari ke-9 yang penuh ampunan dan rahmat.
Ihand.id | • Religi – Memasuki hari ke-9 di bulan suci Ramadhan, umat Islam semakin mendekati fase pertengahan bulan yang penuh keberkahan.
Setiap hari di bulan Ramadhan memiliki keutamaan tersendiri, karena seluruh rangkaian ibadah di dalamnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ramadhan adalah bulan ampunan (maghfirah), bulan rahmat, dan bulan pembebasan dari api neraka.
Di hari kesembilan ini, umat Islam dianjurkan untuk semakin memperbanyak istighfar, memperkuat kesabaran, serta menjaga kualitas ibadah puasa agar tetap bernilai sempurna di sisi Allah SWT.
Dalil Kewajiban dan Keutamaan Puasa Ramadhan
Kewajiban puasa Ramadhan ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Ketakwaan inilah yang menjadi inti dari seluruh keutamaan puasa, termasuk pada hari ke-9 Ramadhan.
Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi dasar kuat bahwa setiap hari puasa, termasuk hari kesembilan, adalah kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan Allah SWT.
Makna Spiritual Puasa Hari ke-9 Ramadhan
Hari ke-9 Ramadhan mengajarkan konsistensi dan keistiqamahan. Setelah lebih dari sepekan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, umat Islam diuji untuk tetap menjaga kualitas ibadah.
Makna yang bisa dipetik pada hari kesembilan antara lain:
1. Konsistensi dalam Ibadah
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan hati. Konsistensi ini menjadi indikator ketakwaan yang mulai terbentuk.
2. Momentum Introspeksi Diri
Hari ke-9 menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi ibadah:
- Apakah shalat sudah lebih khusyuk?
- Apakah tilawah Al-Qur’an semakin rutin?
- Apakah sedekah semakin meningkat?
3. Penguatan Kesabaran
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penulis : Ivantri Gustianda
Halaman : 1 2 Selanjutnya


















