Makna spiritual hari kedua puasa, dalil Al-Qur’an dan hadis, serta keistimewaan yang mulai dirasakan umat Muslim
Ihand.id | • Religi – Memasuki hari kedua bulan suci Ramadan, umat Islam mulai beradaptasi dengan ritme ibadah. Jika hari pertama identik dengan penyesuaian fisik dan mental, maka hari kedua menjadi fase ketenangan: tubuh mulai terbiasa menahan lapar, sementara hati mulai merasakan nikmatnya kedekatan dengan Allah SWT.
Dalam tradisi ulama, hari kedua Ramadan sering disebut sebagai hari penguatan niat dan peneguhan kesabaran, karena seorang Muslim tidak lagi hanya menahan haus dan lapar, tetapi mulai menjaga lisan, pikiran, dan perasaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Makna Puasa Ramadan Hari Kedua
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan latihan pengendalian diri. Pada hari kedua, seseorang mulai memahami esensi puasa sebagai ibadah hati.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Hari kedua menjadi tahap awal munculnya kesadaran tersebut, seseorang mulai lebih berhati-hati berbicara, menahan emosi, dan menjaga pandangan.
Dalil Keutamaan Puasa
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa puasa melindungi manusia dari dosa dan api neraka. Pada hari kedua, perisai itu mulai terasa kuat karena niat semakin mantap dan godaan mulai berkurang.
Dalam hadis qudsi, Allah SWT juga berfirman:
“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa pahala puasa bersifat tak terbatas, dan konsistensi sejak hari kedua menjadi kunci mendapatkan balasan besar.
Keistimewaan Puasa di Hari Kedua Ramadan
1. Hati Mulai Tenang
Hari kedua biasanya menghadirkan ketenangan batin. Nafsu mulai melemah, dan jiwa lebih mudah khusyuk dalam salat serta membaca Al-Qur’an.
2. Doa Lebih Mudah Dikabulkan
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang berpuasa, dan doa musafir.”
(HR. Tirmidzi)
Artinya sejak hari kedua, kesempatan doa mustajab semakin besar, terutama saat menjelang berbuka.
3. Pahala Kesabaran Dilipatgandakan
Puasa adalah ibadah sabar. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Hari kedua menjadi awal pembiasaan sabar yang bernilai pahala tanpa hitungan.
4. Mulai Terbentuk Kebiasaan Ibadah
Salat tarawih terasa lebih ringan, bangun sahur lebih mudah, dan tilawah mulai menjadi rutinitas, tanda hati mulai hidup.
5. Penghapusan Dosa Berlanjut
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Konsistensi sejak hari kedua memperkuat proses pengampunan dosa.
Hikmah Spiritual Hari Kedua
Hari kedua Ramadan adalah fase perubahan: dari kebiasaan dunia menuju kebiasaan ibadah. Jika hari pertama adalah perjuangan fisik, maka hari kedua adalah kemenangan hati.
Di sinilah seorang Muslim mulai merasakan bahwa lapar bukan penderitaan, melainkan jalan menuju kelembutan jiwa dan kejernihan pikiran.
Penutup
Puasa Ramadan hari kedua mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban tahunan, tetapi proses pendidikan ruhani. Ketika hati mulai tenang, doa semakin khusyuk, dan sabar menjadi ringan, itulah tanda puasa mulai diterima.
Ramadan tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi mengubah manusia menjadi lebih lembut, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Dan semua itu dimulai sejak hari kedua.
Penulis : Ivantri Gustianda


















