Perjalanan Panjang Ayatollah Ali Khamenei Menjadi Tokoh Paling Berpengaruh di Republik Islam Iran
Ihand.id – | • Figur – Ayatollah Ali Khamenei merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di Timur Tengah dan dunia Islam.
Ia bukan hanya seorang pemimpin politik, tetapi juga pemimpin spiritual tertinggi Republik Islam Iran. Perjalanan hidupnya mencerminkan dinamika panjang revolusi, perjuangan ideologi, serta perubahan besar dalam sejarah Iran modern.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga
Ali Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, kota suci kedua di Iran setelah Qom. Ia berasal dari keluarga ulama sederhana.
Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, dikenal sebagai ulama Syiah yang hidup bersahaja dan menanamkan nilai keagamaan yang kuat kepada anak-anaknya.
Sejak kecil, Ali Khamenei telah akrab dengan kehidupan religius dan tradisi keilmuan Islam. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membentuk karakter hidup sederhana, disiplin, dan mandiri—nilai yang kelak menjadi ciri kepemimpinannya.
Masa Muda dan Pendidikan Keagamaan
Ali Khamenei menempuh pendidikan agama sejak usia dini di Mashhad sebelum melanjutkan studinya ke Qom, pusat pendidikan Islam Syiah di Iran.
Di sana, ia belajar langsung dari ulama-ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh sentral Revolusi Islam Iran.
Selain mendalami ilmu fikih dan teologi Islam, Khamenei dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap sastra, filsafat, dan sejarah.
Ia juga aktif menerjemahkan karya-karya Islam ke dalam bahasa Persia, yang menunjukkan kapasitas intelektualnya jauh melampaui peran ulama tradisional.
Keterlibatan dalam Revolusi Islam Iran
Pada dekade 1960–1970-an, Ali Khamenei aktif dalam gerakan oposisi terhadap pemerintahan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi. Aktivitas politiknya membuat ia beberapa kali dipenjara dan diawasi ketat oleh aparat keamanan rezim Shah.
Perjuangannya mencapai puncak saat Revolusi Islam Iran 1979 berhasil menggulingkan monarki dan mendirikan Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini.
Sejak saat itu, posisi Khamenei semakin strategis dalam struktur pemerintahan baru.
Karier Politik dan Jabatan Presiden Iran
Pasca revolusi, Ali Khamenei dipercaya mengemban berbagai jabatan penting, termasuk sebagai anggota Dewan Revolusi dan perwakilan Imam Khomeini di Dewan Pertahanan Nasional.
Pada tahun 1981, ia terpilih sebagai Presiden Iran, menjadikannya presiden pertama yang berasal dari kalangan ulama. Ia menjabat selama dua periode (1981–1989), di masa yang sangat sulit, terutama saat Iran terlibat dalam Perang Iran–Irak.
Kepemimpinannya dikenal tegas, ideologis, dan berfokus pada penguatan pertahanan nasional serta kemandirian negara.
Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989, Dewan Ahli Iran secara resmi memilih Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader).
Jabatan ini menjadikannya otoritas tertinggi negara, baik secara politik maupun keagamaan.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memiliki pengaruh luas terhadap:
- Kebijakan luar negeri Iran
- Militer dan Garda Revolusi Iran
- Media nasional
- Sistem peradilan
- Arah ideologi negara
Selama lebih dari tiga dekade kepemimpinannya, Iran menghadapi berbagai tekanan internasional, sanksi ekonomi, konflik regional, serta dinamika geopolitik global.
Gaya Kepemimpinan dan Pengaruh Global
Ali Khamenei dikenal sebagai pemimpin yang konsisten dalam mempertahankan ideologi Revolusi Islam.
Ia sering menekankan pentingnya kemandirian nasional, perlawanan terhadap dominasi Barat, serta solidaritas dunia Islam.
Di kancah internasional, sosoknya kerap menjadi sorotan, baik sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni global maupun sebagai figur kontroversial dalam politik Timur Tengah.
Kesimpulan
Perjalanan hidup Ayatollah Ali Khamenei adalah cerminan dari sejarah panjang Iran modern—dari masa penindasan monarki, revolusi besar, hingga dinamika geopolitik global saat ini.
Dari ulama muda di Mashhad hingga menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Khamenei telah mengukir peran besar dalam menentukan arah politik, ideologi, dan masa depan negaranya.
Penulis : Redaksi

















