Sesi sosialisasi semakin mendalam saat narasumber, Lazuardy, menyampaikan pemaparan tentang sejarah, filosofi, dan nilai syariat dalam penggunaan baju kurung Melayu.
Menurutnya, baju kurung bukan hanya busana warisan leluhur, tetapi juga bagian dari proses pembentukan akhlak dan karakter.
Ia mengingatkan agar masyarakat menjauhi pola berpakaian yang menyerupai budaya jahiliah dan tabarruj (pamer kecantikan), serta kembali pada kesopanan dan kesederhanaan yang diajarkan oleh budaya Melayu dan Islam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lazuardy bahkan memberikan demonstrasi langsung mengenai tata cara berpakaian baju kurung yang benar, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Setiap potongan busana dijelaskan makna filosofisnya, mulai dari kerendahan hati, kesederhanaan, hingga kepatuhan terhadap nilai-nilai luhur agama dan adat.
Melalui kegiatan ini, Dinas Kebudayaan Lingga berharap agar ASN, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat semakin bangga mengenakan baju kurung Melayu, bukan semata karena aturan, tetapi karena kesadaran budaya yang tertanam kuat dalam hati.
Dengan cara ini, Kabupaten Lingga tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat identitasnya sebagai pusat kebudayaan Melayu di Provinsi Kepulauan Riau.
Kegiatan ini menjadi sebuah pengingat bahwa berpakaian bukan sekadar menutup tubuh, tetapi mencerminkan nilai, martabat, dan warisan nenek moyang yang harus dijaga dengan penuh kehormatan.
Penulis : Cahyo Aji
Halaman : 1 2